Online Quran
Bahasa IndonesiaID

Hukum Tajwid

Pengantar Ilmu Tajwid

Disusun dan disunting oleh: Syed Abdul Salam

Tinjauan ilmiah atas teks asli: Dr. Uzma, Imam Syed Siraj Munir

Terjemahan ini didasarkan pada teks Arab, Urdu dan Inggris yang telah ditinjau ulama.

Diperbarui:

Tulisan Mushaf:

Definisi tajwid

Secara bahasa, tajwid berarti memperbaiki atau membuat sesuatu menjadi baik. Secara istilah, tajwid adalah mengucapkan setiap huruf dari makhrajnya dan memberinya hak (حقّ) dan mustahak (مستحقّ) dari sifat-sifatnya. Imam Ibnul Jazari mendefinisikannya sebagai berikut:

Dari al-Muqaddimah al-Jazariyyah
٣٠وَهُوَ إِعْطَاءُ الْحُرُوفِ حَقَّهَامِنْ صِفَةٍ لَهَا وَمُسْتَحَقَّهَا
٣١وَرَدُّ كُلِّ وَاحِدٍ لِأَصْلِهِوَاللَّفْظُ فِي نَظِيرِهِ كَمِثْلِهِ
٣٢مُكَمَّلًا مِنْ غَيْرِ مَا تَكَلُّفِبِاللُّطْفِ فِي النُّطْقِ بِلَا تَعَسُّفِ
٣٣وَلَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ تَرْكِهِإِلَّا رِيَاضَةُ امْرِئٍ بِفَكِّهِ

Hak huruf adalah sifat-sifat tetapnya yang tidak pernah lepas darinya, seperti Jahr (الجَهْر), Shiddah (الشِّدَّة) dan Isti'la' (الاسْتِعْلَاء). Mustahak huruf adalah apa yang timbul dari sifat-sifat itu atau dari huruf yang berdekatan, seperti Tafkhim (التَّفْخِيم) dan Tarqiq (التَّرْقِيق), Izhar (الإِظْهَار), Idgham (الإِدْغَام), Ikhfa' (الإِخْفَاء), Madd (المَدّ) dan Qasr (القَصْر). "Mengembalikan setiap huruf kepada asalnya" berarti mengucapkannya dari makhrajnya; "mengucapkan yang serupa dengannya seperti dirinya" berarti memberi huruf yang sama sifat yang sama di mana pun, tidak membacanya baik di satu tempat dan asal-asalan di tempat lain.

Kemudian Imam menjelaskan bahwa hal itu harus dilakukan dengan lembut, tanpa memaksakan diri dan tanpa berlebihan, dan hanya dapat dicapai dengan latihan, yaitu banyak mengulang di bawah bimbingan guru yang mahir.

Sumber: Ibn al-Jazari, al-Muqaddimah al-Jazariyyah, bait 30 sampai 33; Ibn al-Jazari, an-Nashr fi al-Qira'at al-'Ashr: الكلام على حقيقة التجويد في مقدمة الكتاب; Ibn al-Jazari, at-Tamhid fi 'Ilm at-Tajwid: باب معنى التجويد; Al-Marsafi, Hidayat al-Qari ila Tajwid Kalam al-Bari: تعريف التجويد.

Objek, manfaat dan hukumnya

  • Objeknya: kata-kata Al-Quran, dari sisi memberikan hak dan mustahak huruf-hurufnya.
  • Manfaatnya: menjaga lisan dari kesalahan dalam membaca Kitab Allah, dan membacanya sebagaimana ia diturunkan.
  • Peletaknya: secara praktik, Nabi ﷺ yang menerimanya dari Jibril dan mengajarkannya kepada para sahabat. Sebagai ilmu tertulis, para ahli qiraat dan bahasa; di antara yang pertama menulisnya secara tersendiri adalah Abu Muzahim al-Khaqani (wafat 325 H) dalam nazamnya yang berakhiran huruf Ra', kemudian Makki dalam ar-Ri'ayah.

Hukumnya: mempelajari kaidah-kaidahnya secara teori adalah fardu kifayah, sedangkan menerapkannya ketika membaca adalah wajib bagi setiap orang yang membaca Al-Quran. Imam Ibnul Jazari berkata:

Dari al-Muqaddimah al-Jazariyyah
٢٧وَالْأَخْذُ بِالتَّجْوِيدِ حَتْمٌ لَازِمُمَنْ لَمْ يُجَوِّدِ الْقُرَانَ آثِمُ
٢٨لِأَنَّهُ بِهِ الْإِلَهُ أَنْزَلَاوَهَكَذَا مِنْهُ إِلَيْنَا وَصَلَا
٢٩وَهُوَ أَيْضًا حِلْيَةُ التِّلَاوَةِوَزِينَةُ الْأَدَاءِ وَالْقِرَاءَةِ

Dalilnya adalah ayat ﴿أَوۡ زِدۡ عَلَيۡهِ وَرَتِّلِ ٱلۡقُرۡءَانَ تَرۡتِيلًا ٤اَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْاٰنَ تَرْتِيْلًا ٤﴾ (Al-Muzzammil 73:4). Ibnul Jazari meriwayatkan dalam an-Nashr dari Ali (semoga Allah meridainya) bahwa Tartil (التَّرْتِيل) adalah "memperbaiki bacaan huruf dan mengetahui tempat-tempat waqaf." Bait nazam tersebut memiliki dua bacaan, "siapa yang tidak membaca Al-Quran dengan tajwid" dan "siapa yang tidak membaca Al-Quran dengan benar," dan keduanya berarti bahwa mengabaikan pelafalan yang benar adalah dosa.

Sumber: Ibn al-Jazari, al-Muqaddimah al-Jazariyyah, bait 27 sampai 29; Ibn al-Jazari, an-Nashr fi al-Qira'at al-'Ashr: باب في معرفة حكم التجويد وأدلته; Al-Marsafi, Hidayat al-Qari ila Tajwid Kalam al-Bari: حكم التجويد.

Lahn (kesalahan) dan jenis-jenisnya

Lahn (اللَّحْن) adalah kesalahan dan penyimpangan dari kebenaran dalam membaca. Ada dua jenis:

JenisDefinisiContohHukum
Lahn Jali (اللَّحْن الجَلِيّ)Kesalahan nyata yang merusak kata, diketahui oleh para qari maupun orang lain, dan dapat mengubah makna.Mengganti huruf atau harakat dengan yang lain, memberi sukun pada huruf berharakat atau harakat pada huruf mati, seperti membaca Ta pada ﴿أَنۡعَمۡتَاَنْعَمْتَ﴾ (Al-Fatihah 1:7) dengan dhammah.Haram menurut ijmak.
Lahn Khafi (اللَّحْن الخَفِيّ)Kesalahan yang merusak tajwid tetapi tidak merusak makna; hanya qari yang mahir yang menyadarinya.Meninggalkan Ghunnah atau Ikhfa', memendekkan Madd yang wajib, atau menebalkan huruf yang tipis.Menurut para ahli qiraat, tidak boleh bagi orang yang mampu belajar; sebagian menganggapnya makruh.
Sumber: Ibn al-Jazari, an-Nashr fi al-Qira'at al-'Ashr: الكلام على اللحن; Al-Marsafi, Hidayat al-Qari ila Tajwid Kalam al-Bari: اللحن وأقسامه.

Kecepatan membaca

Bacaan Al-Quran memiliki beberapa tingkat kecepatan, semuanya boleh selama hukum-hukum tajwid dijaga:

KecepatanKeterangan
Tahqiq (التَّحْقِيق)Paling lambat, dengan Madd dan harakat yang sempurna; cocok untuk pengajaran.
TartilBacaan tenang dan perlahan disertai perenungan; kecepatan yang paling utama. Sebagian menganggapnya sama dengan Tahqiq.
Tadwir (التَّدْوِير)Kecepatan pertengahan antara Tahqiq dan Hadr.
Hadr (الحَدْر)Bacaan cepat dengan tetap menjaga hukum-hukumnya; biasanya untuk murajaah.
Kesalahan umum
Kecepatan yang menghilangkan huruf atau harakat, atau memendekkan Madd yang wajib, adalah kesalahan, bukan Hadr.
Sumber: Ibn al-Jazari, an-Nashr fi al-Qira'at al-'Ashr: مراتب القراءة; Ibn al-Jazari, at-Tamhid fi 'Ilm at-Tajwid: باب مراتب القراءة; Al-Marsafi, Hidayat al-Qari ila Tajwid Kalam al-Bari: مراتب القراءة.

Qiraat, riwayat dan thariq

Cara membaca yang dinisbatkan kepada salah satu dari sepuluh imam disebut Qira'ah (القِرَاءَة), seperti qiraat 'Ashim. Yang dinisbatkan kepada perawinya disebut Riwayah (الرِّوَايَة), seperti Hafsh dari 'Ashim. Yang dinisbatkan kepada orang-orang setelah perawi disebut Tariq (الطَّرِيق), seperti jalur asy-Syathibiyyah, yaitu nazam Hirz al-Amani karya Imam al-Qasim bin Firruh asy-Syathibi (wafat 590 H). Menurut Ibnul Jazari, suatu qiraat sahih jika memenuhi tiga syarat: sesuai dengan bahasa Arab dari salah satu sisi yang sah, sesuai dengan rasm salah satu mushaf Utsmani walaupun secara kemungkinan, dan sanadnya sahih.

Sumber: Ibn al-Jazari, an-Nashr fi al-Qira'at al-'Ashr: أركان القراءة الصحيحة في مقدمة الكتاب; Al-Marsafi, Hidayat al-Qari ila Tajwid Kalam al-Bari: القراءة والرواية والطريق.

Adab membaca Al-Quran

  • Ikhlas karena Allah, membaca dalam keadaan suci dan di tempat yang bersih.
  • Membaca isti'adzah di awal, dan basmalah di awal surah (lihat bab berikutnya).
  • Tadabur dan khusyuk, serta memperindah suara tanpa memaksakan diri, sebagaimana dalam hadis "Hiasilah Al-Quran dengan suara kalian" (Abu Dawud, an-Nasa'i).
  • Sabar dalam belajar, karena Nabi ﷺ bersabda: "Orang yang mahir membaca Al-Quran bersama para malaikat pencatat yang mulia lagi taat, dan orang yang membacanya dengan terbata-bata dan merasa kesulitan mendapat dua pahala" (al-Bukhari dan Muslim).