Ra' adalah huruf Istifal, tetapi dalam sebagian keadaan dibaca tebal dan dalam keadaan lain tipis. Banyak ulama berpendapat bahwa asalnya tebal, karena itu yang dijelaskan adalah sebab tipisnya. Pada Ra' berharakat dilihat harakatnya sendiri; pada Ra' mati dilihat huruf sebelumnya.
Kapan Ra' dibaca tebal
| Keadaan | Contoh |
|---|---|
| Berharakat fathah | ﴿رَبَّنَا تَقَبَّلۡرَبَّنَا تَقَبَّلْ﴾ (Al-Baqarah 2:127) |
| Berharakat dhammah | ﴿تِلۡكَ ٱلرُّسُلُتِلْكَ الرُّسُلُ﴾ (Al-Baqarah 2:253) |
| Mati setelah fathah | ﴿مَرۡيَمَمَرْيَمَﶉ﴾ (Maryam 19:16) |
| Mati setelah dhammah | ﴿تُرۡجَعُونَتُرْجَعُوْنَ﴾ (Al-Baqarah 2:28) |
| Mati setelah kasrah yang baru datang di awal kata | ﴿ٱرۡجِعِيٓارْجِعِيْٓ﴾ (Al-Fajr 89:28) |
| Mati setelah kasrah di kata sebelumnya | ﴿رَبِّ ٱرۡجِعُونِرَبِّ ارْجِعُوْنِ﴾ (Al-Mu'minun 23:99) |
| Mati setelah kasrah asli, diikuti dalam katanya oleh huruf Isti'la' yang tidak berkasrah | ﴿قِرۡطَاسٖقِرْطَاسٍ﴾ (Al-An'am 6:7) ﴿فِرۡقَةٖفِرْقَةٍ﴾ (At-Tawbah 9:122) ﴿لَبِٱلۡمِرۡصَادِلَبِالْمِرْصَادِ﴾ (Al-Fajr 89:14) |
| Mati saat waqaf, didahului huruf mati selain Ya, yang didahului fathah atau dhammah | ﴿وَٱلۡعَصۡرِ ١وَالْعَصْرِ ١﴾ (Al-'Asr 103:1) ﴿خُسۡرٍخُسْرٍ﴾ (Al-'Asr 103:2) |
| Mati saat waqaf setelah Alif atau Waw mad | ﴿عَذَابَ ٱلنَّارِعَذَابَ النَّارِ﴾ (Al-Baqarah 2:201) ﴿غَفُورٌغَفُوْرٌ﴾ (Fatir 35:28) |
Ra' mati setelah kasrah yang diikuti huruf Isti'la' dalam kata yang sama hanya terdapat pada lima kata: ﴿قِرۡطَاسٖقِرْطَاسٍ﴾ (Al-An'am 6:7), ﴿فِرۡقَةٖفِرْقَةٍ﴾ (At-Tawbah 9:122), ﴿لَبِٱلۡمِرۡصَادِلَبِالْمِرْصَادِ﴾ (Al-Fajr 89:14), ﴿مِرۡصَادٗامِرْصَادًا﴾ (An-Naba 78:21) dan ﴿وَإِرۡصَادٗاوَاِرْصَادًا﴾ (At-Tawbah 9:107).
Kapan Ra' dibaca tipis
| Keadaan | Contoh |
|---|---|
| Berharakat kasrah | ﴿رِجَالٞرِجَالٌ﴾ (Al-A'raf 7:46) ﴿وَفِي ٱلرِّقَابِوَفِي الرِّقَابِﵐ﴾ (Al-Baqarah 2:177) |
| Mati setelah kasrah asli dalam katanya, tanpa huruf Isti'la' sesudahnya | ﴿فِرۡعَوۡنَفِرْعَوْنَ﴾ (Al-Baqarah 2:49) ﴿فِي مِرۡيَةٖفِيْ مِرْيَةٍ﴾ (Hud 11:17) ﴿وَٱصۡبِرۡوَاصْبِرْ﴾ (An-Nahl 16:127) |
| Mati saat waqaf setelah Ya mati | ﴿قَدِيرٞقَدِيْرٌ﴾ (Al-Baqarah 2:20) ﴿خَبِيرٞخَبِيْرٌ﴾ (Al-Baqarah 2:234) |
| Mati saat waqaf setelah huruf mati (bukan Ya) yang didahului kasrah | ﴿لِذِي حِجۡرٍلِذِيْ حِجْرٍ﴾ (Al-Fajr 89:5) |
| Ra' dengan imalah dalam riwayat Hafsh | ﴿مَجۡر۪ىٰهَامَجْرٖىهَا﴾ (Hud 11:41) |
Tempat yang boleh keduanya
| Kata | Hukum |
|---|---|
| ﴿كُلُّ فِرۡقٖكُلُّ فِرْقٍ﴾ (Ash-Shu'ara 26:63) | Saat washal maupun waqaf: tebal karena huruf Isti'la', tipis karena huruf itu berkasrah; keduanya sah dan dibaca. |
| ﴿بِمِصۡرَبِمِصْرَ﴾ (Yunus 10:87) | Saat waqaf: keduanya boleh; Ibnul Jazari memilih tebal, dengan memperhatikan bacaannya saat washal. |
| ﴿عَيۡنَ ٱلۡقِطۡرِۖعَيْنَ الْقِطْرِﵧ﴾ (Saba 34:12) | Saat waqaf: keduanya boleh; Ibnul Jazari memilih tipis, dengan memperhatikan bacaannya saat washal. |
| ﴿يَسۡرِيَسْرِ﴾ (Al-Fajr 89:4) ﴿فَأَسۡرِفَاَسْرِ﴾ (Hud 11:81) ﴿وَنُذُرِوَنُذُرِ﴾ (Al-Qamar 54:16) | Saat waqaf: keduanya boleh; banyak ahli qiraat memilih tipis, dengan memperhatikan Ya yang dibuang. |
Getaran Ra'
Penyair berkata, "dan samarkan getarannya ketika bertasydid." Ra' memiliki sifat Takrir (التَّكْرِير), dan tujuannya menyamarkannya, bukan menampakkannya: pembaca menempelkan lidah dengan mantap ke langit-langit agar ujungnya tidak bergetar, terutama pada Ra' bertasydid, seperti pada ﴿ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ ٣الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ ٣﴾ (Al-Fatihah 1:3). Berlebihan hingga suaranya tertahan juga merupakan kesalahan.